Ubah Mindset Mu, dan Ciptakan Ruang-Ruang Bertumbuh Mu sendiri!

Pada Ahad 12 November 2017 kemarin, saya berkesempatan berbagi / sharing tentang growth mindset bersama teman-teman reseller Kinza Kids (Agen Afrakids). Saya diminta oleh istri tercinta (Novita Juanda). Kalo udah doi yang minta, ngga bisa mengelak lagi. 😀

Saya memulai sesi sharing dengan cerita awal Novita memulai bisnis. Saya kembali menceritakan awal-awal Mba Novita berbisnis dari sudut pandang saya sebagai suami. ‎Kami menikah 23 Desember 2012. Saya mengenal Novita sejak tahun 2006. Kami satu kampus dan pernah satu aktivitas di Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tingkat pertama di IPB. Saya ketua Komisi, Mba Novita sekretarisnya. Selanjutnya saya di BEM dan dia di DPM. Sedikit banyak, saya mengenal bagaimana Novita saat di kampus. Tidak pernah terbesit bahwa saat menikah dan melahirkan Aidan, dia akan memulai bisnis online. Bisnis online adalah pilihan dari beberapa pilihan, yang dirasa paling baik untuk Novita dan Aidan saat itu. Singkat cerita, Novita menjadi Agen Afrakids, dan memulai bisnis onlinenya dari sana. Bagi saya, Afrakids adalah cara saya untuk tetap memberikan ruang bertumbuh kepada Novita. Saya sampaikan berulang kali ke Novita, “Kamu jangan sekedar berdagang di Afrakids, tapi meleburlah dengan visi, misi dan values nya”. Ini tentang ruang bertumbuh bagi seorang aktivis kampus yang dibenturkan oleh realita bahwa setelah berkeluarga dan memiliki anak, maka orientasinya sudah jauh berubah.

Hal ini sejalan dengan visi keluarga kami. Genap Agama, Bakti dan Mimpi. Genap Mimpi itu adalah ruang bertumbuh. Saya sampaikan ke peserta, bagaimana ruang-ruang bertumbuh ini menjadi bagian dari visi dan misi keluarga. Harus ada keridhoan dan sinergi antara suami dan istri. Suami harus paham tentang kebutuhan ruang bertumbuh istri. Menjadi bagian aktif dari proses bertumbuh seorang istri, dan sebaliknya. Saya kira, disaat hari itu,  Suami mengantar istri nya mengikuti kegiatan Meet Up Reseller Kinza Kids (Agen Afrakids). Sebagai bukti bahwa kesadaran ini sudah ada, dan mari kita jaga bersama agar menjadi keluarga yang produktif dalam bingkai kebaikan dan dakwah.

Memiliki penghasilan sendiri adalah tugas “sampingan” seorang istri. Tugas utamanya tetap menjadi seorang istri bagi suami, dan seorang ibu bagi anak-anaknya. Apakah ini sejalan? sangat sejalan, dan tidak perlu dibenturkan. Ini masalahnya, kita sering kali membenturkan kondisi satu dengan kondisi lain, sebelum kita benar-benar menjalaninya dan mencari jalan tengah atas dua kondisi tsb. Suami harus memahami bahwa istri sedang belajar tidak membenturkan. Dan istri harus terus berupaya untuk tidak membenturkan. Hingga bertemu titik keseimbangan keduanya. Ingat, ‎di Afrakids Mba/Mas bisa belajar ilmu parenting juga, berkumpul dengan orang-orang yang memiliki concern yang sama tentang pentingnya pendidikan anak, berbagi info dan ilmu, dll. Bukankah ini sejalan dengan fungsi seorang bunda atau orang tua?

Lalu, bagaimana jalan tengahnya? Berbisnis lah, jangan sekedar berdagang. Saya selalu menekankan ke Novita untuk membangun sistem. Sistem ini yang membedakan antara dagang dan bisnis. Bertumbuh, punya karyawan, pakai aplikasi kasisr, dll. Bangun sistem sedemikian agar waktunya tetap diprioritaskan untuk keluarga. Yuk berbisnis! Bisnis hanya sarana, ada tujuan yang lebih besar dari sekedar menghasilkan uang. Terus berpikir menjadi lebih baik. Meningkatkan manfaat. Bisnis letupan, sedangkan dagang rutin. ‎Bangun sistem, agar owner bisa lebih fokus ke pengembangan dan peran utamanya sebagai seorang istri.

Mba/Mas, banyak hal yang tidak kita ketahui, bahkan dibandingkan dengan apa yang diketahui oleh seorang anak kecil. Kita sering kali melihat sesuatu sebatas frame yang kita buat. Frame yang terkadang membuat kita salah melihat kenyataan. Padahal ilmu Alloh begitu luas. Alloh memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk hambanya berusaha. Merugilah kita disaat hari ini sama dengan hari kemarin, dan celakalah jika malah lebih buruk.

Siklus pembelajaran kita. Penyadaran > pembelajaran > pembiasaan. Apa yang akan kita bahas ke depan adalah bagaimana kita bisa membuka pintu-pintu pembelajaran kita, melalui proses penyadaran. Bagaimana kita bisa memperbaiki kekurangan kita, kalo kita tidak pernah menyadari sesuatu itu adalah hal yang harus di improve atau diperbaiki. Bagaimana dokter bisa memberi obat? jika pasien tidak pernah merasa bahwa dia sakit dan perlu diberi obat. Apapun yang diberikan dan disampaikan orang ke kita, akan menjadi sesuatu untuk kita disaat kita sadar dan menerimanya.

Belajar, membuat kita berpindah dari zona nyaman ke zona tantangan. Akan terus begitu. Itu sudah sunnatullahnya. Tapi begitu leganya kita, setelah kita melewatinya. Bagaimana kita menerima zona tantangan, menikmati setiap tantangan dan merayakan keberhasilan. Ini sangat tergantung dg mindset. Zona nyaman adalah masalah. Zona nyaman mengurangi kepekaan dan kesadaran.

Apa itu Mindset?

Segugusan keyakinan, nilai-nilai, identitas, ekspektasi, sikap, kebiasaan dan opini tentang diri anda, orang lain dan hidup (James Arthur Ray). Apa yang kamu pikirkan tentang sesuatu sebelum kamu memikirkan tentang itu (Dr. Faiz Khan)

Kecerdasan Pemberian Lahir atau Dapat Dikembangkan?

Fenomena saat saya kecil. Anak selalu dibandingkan dengan IQ, dan anak dipaksa “pasrah” dengan kondisi itu. “Dia mah emang anak pintar, jadi wajar, dst.. dst..”. Yang tidak ranking? mereka sudah menerima itu menjadi sebuah pemberian. Zaman dulu, kecerdasan orang dilihat dari bentuk atau tonjolan-tonjolan tertentu pada tengkorak otak. Mereka meyakini bahwa orang yang dilahirkan cerdas, mereka akan cerdas selamanya. Tapi ilmu pengetahuan melihatkan berbeda, dan teori itu terbantahkan.
Namun pada praktiknya, paradigm bahwa kecerdasan dan kesuksesan itu adalah pemberian lahir, masih ada di tengah masyarakat kita. Bahkan ditengah-tengah kita. Mungkin bukan tentang kecerdasan, tapi tentang bidang keahlian. Misal : masih-kah diantara kita yang beranggapan bahwa saya tidak jago berdagang? tidak jago jualan? jika masih ada, dan cap itu diberikan tanpa pernah merasakan proses berusaha optimal menuju bisa. Maka kita termasuk pada kelompok yang berpikir zaman old.

Alfred Binet (pencetus test IQ) pada awal abad ke-20 saja percaya bahwa pendidikan dan latihan dapat menciptakan perubahan-perubahan fundamental dalam intelegensi manusia. Binet mempercayai bahwa orang yang paling awal cerdas, tidak selalu menjadi paling cerdas di akhir. Orang yang hari ini menjadi agen atau reseller terbaik Afrakids, belum tentu menjadi agen atau reseller terbaik di masa yang akan datang, atau sebaliknya.

Sekarang kita coba cek bagaimana islam mengajarkan kita tentang ini. Tentang amanah khalifah di muka bumi, tentang harus lebih baik dari hari ke hari, tentang konsep rizky, tentang Alloh tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka mengubahnya dirinya sendiri.

Mba/Mas pernah nonton video Olimpiade Paralympic? Coba search di google.Olimpiade Paralympic adalah olimpiade untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Namun dengan segala keterbatasan fisik, mereka mencoba berlomba, dan memberikan yang terbaik. Lomba lari kusi roda, lomba lari walau mereka tidak bisa melihat, dst.. dst.. Bagaimana dengan kita?

Apakah orang-orang yang growth mindset adalah orang-orang yang percaya bahwa semua orang bisa menjadi Einsten atau pebisnis-pebisnis sukses yang lain seperti Steve Jobs,dll. Saya katakan tidak, saya bukan motivator yang akan memberikan bumbu-bumbu semangat tanpa logika. Yang diyakini oleh orang-orang yang memiliki growth mindset adalah potensi seseorang tidak diketahui dan tidak bisa diketahui. Keyakinan bahwa kecerdasan, diri, kemampuan tidak dapat ditingkatkan akan mengarahkan pada sekumpulan pemikiran dan tindakan yang akan menutup potensi, dan sebaliknya. Disinilah pintu awal pembelajar. Aha momen

Terlihat Pintar vs Usaha Optimal

Bagi fixed mindset, tidak ada usaha berarti tidak ada kerugian. Jika diawal tidak berhasil, itu berarti memang sudah tidak bakat. Penelitian membuktikan bahwa masyarakat kita memberikan penghargaan lebih kepada orang-orang yang tanpa berusaha lebih, menjadi orang yang terbaik. Padahal ini salah. Berilah apresiasi lebih kepada mereka yang mendapatkan keberhasilannya dengan berusaha. Pada pemeriksaan gelombang otak menunjukan bahwa orang-orang yang fixed mindset hanya tertarik tentang jawaban benar dan salah. Mereka tidak tertarik dengan hal-hal pengembangan yang mungkin mereka dapatkan dari hal dibelakang jawaban itu. Sebaliknya, growth mindset sangat antusias dengan latar belakang kenapa suatu jawaban salah atau benar.

Perbedaan Fix Mindset dan Growth Mindset dalam membangun hubungan.Fix mindset lebih menyukai berteman dengan orang-orang yang selalu memberitakan kabar baik dan pujian kepada nya. Jika ada yang memberikan masukan atau memberitahukan atau menasehatinya, maka ia akan mulai menjauhinya. Karena fakta bahwa dia tidak sempurna, adalah bencana bagi eksistensi seorang fix mindset. Beda hal nya dengan orang-orang yang memiliki growth mindset. Mereka senang berkumpul dengan orang-orang yang secara langsung atau tidak langsung, secara sengaja atau tidak sengaja memperlihatkan kekurangan dirinya. Memberi inspirasi untuk bertumbuh dan terus berproses dengan lebih baik. Maka, dalam situasi seperti ini, mereka yang fix mindset akan berkumpul dengan orang-orang yang fix mindset, dan perkumpulan ini menjadi perkumpulan penuh topeng. Sedangkan, sedangkan orang yang memiliki growth mindset akan berkumpul dengan mereka yang memiliki growth mindset juga. Mereka memiliki pribadi yang menyenangkan, terbuka dan saling menasehati dalam kebaikan.

Berbicara 2 mindset ini, kita akan diajak ke dunia yang berbeda. Dunia yang pertama adalah dunia yang menginginkan pembuktian bahwa kita pintar. Didunia yang lain, mereka berusaha untuk menjadi lebih baik dan mencoba hal-hal yang baru. Bagi yang memiliki fix mindset, mereka selain ingin terliat pintar dan selalu berhasil. Mereka juga mengejar kesempurnaan, dalam waktu instan.

Mari kita tarik dalam konteks bisnis kita sehari-hari. Ada yang bisa memberi contoh perilaku yang menggambarkan fix mindset dan growth mindset?
Seberapa dalam kita memahami pentingnya proses dalam berbisnis? pernah kita mendapati pebisnis yang sukanya instan. Comot foto, dan menjadi sebuah kebiasaan. Comot copywriting, dan terlena dengan kemudahan itu. Bukan tidak boleh, bukan. Karena hal itu menjadi fasilitas yang diberikan oleh Afrakids Pusat. Namun, bagaimana kita melihat pentingnya sebuah proses, ini yang penting. Seingat saya, waktu awal-awal Novita memulai bisnis. Saya selalu menekankan hal ini, layaknya bayi, semua tahapan pertumbuhan harus tetap dia lewati, semewah apapun fasilitas yang diberikan Afrakids pusat. Karena targetnya bukan menjadi agen terbaik, kami tidak tau seberapa besar peluang pertumbuhan dan rizky Alloh berikan dari usaha ini. Bisa jadi sekarang agen, belum tentu ke depan, bisa jadi owner, bisa jadi investor. Maka, mandirilah bertumbuh.

Menyembunyikan Kesalahan vs Kesalahan itu Baik.

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, dan penelitian membuktikan bahwa tidak banyak orang yang benar-benar akurat melihat kelebihan dan kekurangannya. Maka ada istilah BLIND SPOT. Masalah temen-temen yang memiliki fixed mindset. Mereka membatasi informasi tentang diri mereka. Jika itu kebaikan, maka akan dibesar-besarkan. Jika itu keburukan, tidak akan dihiraukan dan bahkan ditutupi. Padahal mengenal diri dengan baik, adalah kunci pengembangannya. Bagaimana kita bisa menjadi lebih baik, jika kita tidak tahu apa yang harus diperbaiki.

Bagi orang-orang yang memiliki growth mindset, jika mereka melakukan kesalahan, dengan penuh sadar dia mengakui kesalahan, mengambil bagian sesuai kesalahannya, tidak menyalahkan orang lain atau factor eksternal. Mencoba mencari tau kenapa dia gagal, dan mengambil pelajaran atas kegagalan tersebut. Jika satu cara belum berhasil, dia akan mencoba cara lain, hingga iya menemukan pola keberhasilan. “Bodoh”, kata Einsten. Jika kita mengharapkan hasil yang berbeda, dengan cara yang sama.

Bagi fix mindset, mereka menghindari tantangan. Kenapa? karena mereka khawatir tidak berhasil, dan karena itu orang lain tau kekurangan mereka. Mereka selalu ingin dilihat bisa dan juara. Jika gagal dalam ujian, mereka akan mengurangi usaha karena mereka merasa tidak berbakat. Mereka berpikir menggunakan cara yang tidak semestinya agar tetap terlihat menang. Mereka akan berusaha mempertahankan harga diri mereka. Mereka mencari perbandingan yang lebih buruk dari mereka, sebagai perbandingan. Mencari kambing hitam dan kesalahan pihak luar atas kondisi yang terjadi. Gagal mengevaluasi kegagalan dan menemukan kesalahan, membuat orang yang fix mindset tidak dapat melakukan perbaikan. Bagi growth mindset, mereka bukan sekedar mencari tantangan, tapi dengan sungguh-sungguh melewatinya. Menikmati setiap prosesnya, belajar dan belajar. Jatuh, kembali bangkit. Karena 2 cara pandang yang berbeda terhadap kegagalan tsb di atas lah, penelitian membuktikan orang yang fix mindset memiliki tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan yang growth mindset.

Kesuksesan adalah Ancaman vs Inpirasi bagi Orang Lain

Kenapa kesuksesan dianggap ancaman bagi fix mindset, karena bagi mereka esuksesan dirinya adalah kegagalan orang lain. Maka, dia sangat takut bahwa sukses itu akan pindah kepada orang lain dan dia menjadi orang yang gagal. Kesuksesan adalah tujuan dari orang yang memiki Fix Mindset, sedangkan bertumbuh dan berkembang adalah tujuan dari orang2 yang memiliki growth mindset.

Penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang growth mindset tidak mengerjakan sesuatu karena ingin mencapai titik atau puncak tertentu. Mereka mengerjakan susuatu karena mereka mencintai apa yang mereka kerjakan. Mereka penasaran dan menikmati setiap proses yang mereka harus lalui. Namun, pada akhirnya mereka akan mendapatkan puncak kesuksesan, dan sebaliknya. Bagi mereka kesuksesan itu disaat mereka menjadi lebih baik dan lebih baik, dengan standar yang mereka bangun (dengan Tuhannya). Jika dia tidak lagi juara, dia tidak pusing, karena memang bukan itu tujuannya. Dia selalu berbagi dan menginspirasi. Dia senang jika orang lain sukses, bahkan lebih sukses. Karena masing-masing orang punya standar kesuksesan masing-masing.

Kemampuan vs Usaha & Attitude

Kemampuan akan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Tapi attitude dan usaha tidak. Respon terhadap perubahan sangat menetukan keberhasilan kita. Dan respon ini lebih dekat ke attitude dan usaha.

Mulailah dari merubah kata-kata kita.

“Hasilnya cukup baik” menjadi “Ini adalah usaha terbaik saya”.
“Saya membuat kesalahan” menjadi “Kesalahan membuat saya berkembang”.
“Saya bangga dengan hasil yang saya capai” menjadi “Saya sudah di track yang benar”
“Ini terlalu keras buat saya” menjadi “Ini mungkin akan membutuhkan waktu dan usaha lebih”.
“Saya tidak akan bisa sehebat dia”
menjadi “Saya akan mencari tahu apa yang membuat di hebat, dan mencobanya”.
“Saya tidak bisa melakukan ini dengan lebih baik” menjadi “Saya akan selalu mencoba menjadi lebih baik. Saya akan terus mencoba”.
“Saya menyerah, saya tidak bisa melakukannya” menjadi “Saya akan mencari strategi lain, dan saya sudah belajar dari kesalahan sebelumnya”.

Setelah ini, apakah kita harus merubah semuanya? saya katakan, TIDAK. Mungkin mindset tetap menghalangi perkembangan dan perubahan positif dalam dirinya, namun tidak berarti mindset berkembang mengharuskan perubahan segalanya. Growth Mindset hanya sebagai titik tolak menuju perubahan (penyadaran), tetapi kita yang harus memutuskan kemana usaha kita agar perubahan tsb menjadi sesuatu yang paling berharga. Mindset tetap selalu ingin memastikan bahwa mereka harus berhasil. Keberhasilan adalah standar atau target temen-temen fix mindset. Bagi mindset berkembang, keberhasilan adalah pengembang diri.

Akhir kata, saya tutup dengan quotes: “Mindset bukan masalah kesuksesan seseorang, tapi bagaimana mereka mendapatkan dan menikmati kesuksesan mereka”

Hendra Etri Gunawan
Human Capital Development Manager Bukalapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *